2025 di Gaza: Tahun Duka, Kelaparan, dan Penantian Akan Harapan
Memasuki penghujung tahun 2025, Gaza masih bergulat dengan krisis kemanusiaan yang mendalam. Tahun ini tercatat sebagai salah satu periode paling getir dalam sejarah Jalur Gaza—ditandai oleh ribuan korban jiwa, kelaparan ekstrem, pengungsian massal, serta hancurnya infrastruktur vital, terutama fasilitas kesehatan.
Konflik yang terus berlangsung telah merenggut rasa aman warga sipil. Banyak keluarga kehilangan rumah, akses pangan kian terbatas, dan layanan medis berada di titik kritis. Perempuan dan anak-anak menjadi kelompok paling terdampak, hidup dalam kondisi serba kekurangan dan ketidakpastian berkepanjangan.
Di tengah puing-puing bangunan dan keterbatasan bantuan, warga Gaza menjalani hari-hari dalam penantian panjang akan solusi nyata—sebuah akhir dari penderitaan dan awal dari kehidupan yang layak. Harapan akan penghentian kekerasan, pemulihan sosial, serta kesempatan membangun kembali masa depan terus mereka genggam, meski ujian belum usai.
Tahun 2025 akan dikenang sebagai puncak penderitaan sekaligus ujian keteguhan. Namun, dari Gaza pula lahir seruan kemanusiaan yang tak boleh diabaikan dunia.
Sebagai bagian dari solidaritas global, masyarakat Indonesia memiliki peran penting: menyuarakan kebenaran, melawan disinformasi, serta mendukung aksi kemanusiaan berkelanjutan, khususnya di sektor kesehatan ibu dan anak.
Di penghujung tahun ini, satu pesan kembali digaungkan dari Gaza kepada dunia:
Suarakan. Sebarkan. Jangan biarkan penderitaan ini terlupakan.
Karena Palestina bukan isu musiman—ia adalah amanah kemanusiaan.
Untuk informasi lengkap dan donasi resmi pembangunan RSIA Indonesia di Gaza, kunjungi 👉 https://rsiaindonesiadigaza.com



Post a Comment