Al-Qur’an di Tengah Dingin Gaza: Cahaya Iman Anak-Anak yang Tak Pernah Padam
Gaza City — Di tengah dingin yang menusuk tulang dan keterbatasan hidup di tenda-tenda pengungsian, anak-anak Gaza memeluk Al-Qur’an sebagai cahaya kehidupan. Ketika rumah-rumah runtuh dan rasa aman direnggut, mushaf suci tetap berada di tangan-tangan kecil yang penuh keteguhan.
Dari tenda pengungsian, ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan lirih, menyatu dengan hembusan angin musim dingin. Suara bacaan yang pelan dan wajah-wajah polos itu menjadi tanda bahwa harapan masih menyala, meski kehidupan terus diuji oleh perang dan krisis kemanusiaan.
Al-Qur’an menjadi rumah ketika rumah direnggut. Menjadi selimut ketika dunia terasa dingin. Menjadi doa yang tak henti dipanjatkan di tengah ujian.
Bagi anak-anak Gaza, kitab suci bukan sekadar bacaan, melainkan pegangan jiwa dan penguat hati. Di antara keterbatasan pangan, minimnya layanan kesehatan, dan trauma berkepanjangan, iman menjadi benteng terakhir yang menjaga mereka tetap berdiri.
Dari Gaza, dunia belajar bahwa keteguhan lahir dari iman, dan harapan tumbuh dari keyakinan yang dijaga bersama. Di saat banyak hal dirampas, keyakinan tetap hidup, diwariskan dari generasi ke generasi.
Doa kami dari Indonesia untuk anak-anak Gaza —agar cahaya ini tak pernah padam,
agar iman terus menjadi pelita di tengah gelapnya ujian.
Sebagai bentuk kepedulian nyata, masyarakat Indonesia diajak untuk mendukung Pembangunan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Indonesia di Gaza City, demi melindungi masa depan anak-anak dan ibu Gaza, agar harapan yang tumbuh hari ini dapat terus hidup esok hari.




Post a Comment