Harapan dan Tantangan Pendidikan Anak di Gaza 2025
Dua tahun perang telah membawa sistem pendidikan di Gaza ke ambang kehancuran. Sekolah-sekolah rusak berat hingga hancur total, ruang kelas berubah fungsi menjadi tempat pengungsian, dan proses belajar jutaan anak terpaksa terhenti.
Data menunjukkan bahwa lebih dari 97% sekolah di Gaza mengalami kerusakan atau kehancuran, sementara sekitar 91,8% fasilitas pendidikan membutuhkan rehabilitasi total sebelum dapat digunakan kembali. Akibatnya, lebih dari 658.000 anak usia sekolah kehilangan akses belajar tatap muka selama lebih dari dua tahun, sebagaimana dilaporkan UNICEF.
Di tengah kondisi yang sangat sulit ini, harapan masih menyala. UNICEF mencatat keberhasilan pendirian 78 learning centres sementara untuk memastikan pendidikan tidak sepenuhnya terhenti. Hingga saat ini, sekitar 109.310 anak—54% di antaranya adalah anak perempuan—masih dapat mengakses pembelajaran non-formal.
Anak-anak ini belajar dalam kondisi terbatas: tiga hari dalam seminggu, tiga jam per hari, di tenda-tenda darurat atau ruang pengungsian. Upaya ini menjadi bentuk perjuangan agar pendidikan tetap berjalan, meski jauh dari kata ideal.
Yang paling menyentuh, di tengah reruntuhan dan keterbatasan, anak-anak Gaza tidak menyerah pada keadaan. Mereka membawa buku ke dalam tenda pengungsian, menghafal pelajaran di lorong-lorong sempit, bahkan menulis di lantai karena tak lagi memiliki meja belajar. Semangat belajar mereka menjadi simbol ketahanan dan harapan di tengah krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.
Tanpa akses pendidikan dan rasa normalitas, anak-anak Gaza berisiko kehilangan masa depan mereka—bahkan sebuah generasi bisa hilang. Membuka kembali akses pendidikan bukan hanya soal belajar membaca dan berhitung, tetapi juga tentang memberi harapan, rasa aman, dan perlindungan psikososial bagi anak-anak di tengah konflik.



Post a Comment