Menikah di Bawah Genosida: Gaun Pengantin Palestina Berlukur Darah

Table of Contents

 Pernikahan Mustafa dan Nesma al-Borsh di Gaza berlangsung sederhana karena kondisi perang yang berkepanjangan. Setelah berkali-kali tertunda sejak Oktober 2023, mereka akhirnya menggelar akad dan perayaan kecil di sebuah tenda di kawasan Tuffah, Gaza City, dengan harapan bisa merasakan sejenak kebahagiaan di tengah penderitaan.

Namun kebahagiaan itu seketika hancur. Saat acara hampir usai, artileri Israel menghantam sebuah bangunan di sebelah tenda pernikahan. Bangunan tersebut merupakan pusat pelatihan yang dialihfungsikan sebagai tempat pengungsian, dan menjadi lokasi yang direncanakan pasangan ini untuk tinggal setelah menikah.



Ledakan memicu kebakaran, asap, dan kepanikan. Hari yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru berubah menjadi tragedi. Delapan orang tewas, termasuk kerabat dan tetangga Mustafa, serta seorang keponakannya yang sebelumnya masih menari dengan gembir


Mustafa, yang baru saja menjadi pengantin, segera berubah menjadi relawan penyelamat. Ia membantu mengevakuasi korban luka dan jenazah, sementara ambulans tertahan lebih dari dua jam karena menunggu izin masuk. Seluruh persiapan pernikahan dan tempat tinggal mereka hangus terbakar.



Pasangan ini telah lama menunda pernikahan akibat pengeboman, kelaparan, pengungsian berulang, dan kehilangan anggota keluarga. Meski sempat berharap pada gencatan senjata, perang kembali pecah dan memaksa mereka terus berpindah tanpa kepastian tempat ting



Kini Mustafa dan Nesma kembali terpisah, hidup mengungsi bersama keluarga masing-masing. Kebahagiaan yang mereka perjuangkan di tengah perang direnggut dalam sekejap, meninggalkan luka mendalam dan pertanyaan tentang keadilan serta kemanusiaan.

Untuk informasi lengkap dan donasi resmi pembangunan RSIA Indonesia di Gaza, kunjungi 👉 https://rsiaindonesiadigaza.com

Post a Comment